MEUTIA IKAWIDJAJA

Berpacu menjadi yang terbaik

AKTUALISASI DIRI DAN FULL FUNCTIONING
diposting oleh meutia-i-fpsi11 - 19 June 2013
kategori : Umum - 0 komentar

AKTUALISASI DIRI DAN FULL FUNCTIONING

 

AKTUALISASI DIRI

Aktualisasi diri ialah salah satu tugas individual dalam memenuhi kebutuhan psikologis seseorang. Abraham Maslow, mengidentifikasi aktualisasi diri salah satu aspek dasar yang dibutuhkan oleh manusia, dan mencantumkannya di tangga ke-5 dalam piramida Maslow Hierarchy of Needs. Menurut pandangan Maslow, seperti yang tertera di Maslow Hierarchy of Needs, aspek-aspek perilaku yang termasuk kebutuhan psikologis manusia dalam aktualisasi diri terdiri atas moralitas, kreativitas, spontanitas, pemecahan masalah, penerimaan kenyataan, dan berprasangka baik.

Maslow mengungkapkan terdapat beberapa indikator dalam mencapai aktualisasi diri yang optimal (Sarwono, 2000). Berikut adalah indikator-indikator yang dimaksud.

  • Persepsi yang tepat terhadap realita. Seseorang harus mampu memutuskan sesuatu secara benar dan jujur.
  • Menerima diri sendiri, orang lain, dan lingkungan dengan baik. Seseorang harus mampu menerima lingkungan sosialnya beserta semua kekurangannya.
  • Spontanitas. Seseorang sebaiknya memiliki spontanitas dan respon cepat terhadap segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya.
  • Fokus terhadap target pencapaian. Lakukanlah berbagai hal yang bermanfaat selama rentang kehidupan dan fokuskan perhatian kepada target dari hal-hal yang dilakukan tersebut.
  • Otonomi. Seseorang yang memiliki aktualisasi diri yang baik semestinya bebas dari berbagai otoritas eksternal dari orang lain yang mengikat.
  • Kedekatan dengan individu yang lain. Untuk memenuhi tugas sebagai makhluk sosial, manusia harus membangun relasi yang baik dan berkesinambungan dengan sesamanya.
  • Mendalami hubungan interpersonal. Hubungan interpersonal pada seseorang yang memiliki aktualisasi diri yang baik ditandai dengan hubungan timbal balik yang sangat mendalam dengan sesamanya.
  • Nyaman dan solid. Disamping hubungan dengan sesama manusia yang memuaskan, seseorang yang memiliki aktualisasi diri yang baik tetap merasa solid dan nyaman tatkala ia perlu untuk hidup sendiri dengan alasan apapun.
  • Memiliki selera humor dan bisa bergurau. Seseorang dapat terlihat menyenangkan di mata orang lain dengan mempunyai selera humor dan dapat diajak bergurau.

 

FULL FUNCTIONING

Full functioning adalah konsep yang dicetuskan oleh C. R. Rogers, psikolog Amerika Serikat. Konsep ini ia gunakan untuk menggambarkan kondisi seseorang untuk memenuhi potensinya sebagai manusia. Selanjutnya ia juga menjelaskan bahwa setiap makhluk hidup selalu berusaha untuk memenuhi potensinya, begitu pula manusia. Setiap orang memiliki kecenderungan untuk mewujudkan semua apa yang ia inginkan.

Namun, selanjutnya ia menjelaskan bahwa konsep fully functioning person dipandang sebagai sebuah proses bukan suatu kondisi yang tetap atau suatu hal yang harus dipenuhi. Proses yang dialami sesorang memiliki tiga karakteristik utama. Karakteristik pertama adalah  Meningkatnya keterbukaan pada pengalaman (An Increasing Openness to Experience) secara garis besar, karerkteristik ini menggambarkan bagaimana seseorang pada akhirnya mampu menerima berbagai pengalamannya baik itu baik maupun buruk, Dalam hal ini seseorang tidak lagi menggunakan defense mechanism karena ia menerima segala bentuk pengalaman. Seperti yang dijelaskan sebagai berikut:

The individual is becoming more able to listen to himself, to experience what is going on within himself. He is more open to his feelings of fear and discouragement and pain. He is also more open to his feelings of courage, and tenderness, and awe. He is free to live his feelings subjectively, as they exist in him, and also free to be aware of these feelings. (Rogers, 1953)

 

Karakteristik berikutnya adalah meningkatnya kehidupan eksistenial (Increasingly Existential Living). Yang dimaksud disini adalah seseorang hidup pada masa sekarang (present) dan menghadapi segala bentuk pengalaman yang terjadi sekarang. Seperti yang dijelaskan sebagai berikut:

 

The complex configuration of inner and outer stimuli which exists in this moment has never existed before in just this fashion. Consequently such a person would realize that "What I will be in the next moment, and what I will do, grows out of that moment, and cannot be predicted in advance either by me or by others. (Rogers, 1953)

 

Karakteristik ketiga adalah meningkatnya kepercayaan pada dirinya (An Increasing Trust in His Organism) Kepercayaan yang dimaksud adalah seseorang mampu mempercayai dirinya beserta kemampuanya untuk merespon suatu situasi alih-alih melakukan sesuatu berdasarkan guideline atua hal lainnya yang serupa. Hal ini dudukung dengan penejelasan sebagai berikut:

 

They are surprised at their own intuitive skill in finding behavioral solutions to complex and troubling human relationships. It is only afterward that they realize how surprisingly trustworthy their inner reactions have been in bringing about satisfactory behavior. (Rogers, 1953)

 

Secara holistik, full functioning person akan menerima berbagai pengalaman, memanfaatkan segala sumber daya dan percaya pada kemampuannya, serta realistis.

 

SUMBER:

Rogers, C. R. (1953). Retrieved April 2, 2013, from A Therapist's View of the Good Life: The Fully Functioning Person: http://ebookbrowse.com/carl-rogers-a-fully-functioning-person-pdf-d275781857

 Sarwono, Sarlito Wirawan. (2000). Berkenalan Dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang.



Tinggalkan Komentar
Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

UNAIR

Kategori

Umum (8)

Pengunjung

12932